Rabu, 16 Januari 2008
Toyota Rajai Penjualan Mobil Nasional

Sepanjang tahun 2007 Toyota yang berada di bawah bendera Astra merajai penjualan mobil secara nasional yakni mencapai 150.677 unit.

Produk Astra lain, yang penjualannya cukup signifikan adalah Daihatsu dan Isuzu.

Sedangkan di luar produk Astra, Mitsubishi nampak dominan, yakni mencapai 61.547 unit dibanding Suzuki dan Honda.

Data yang diterima dari Gaikindo, Selasa menyebutkan , penjualan mobil sepanjang tahun 2007 tercatat sebanyak 434.449 unit.

Jumlah ini naik 36,2 persen jika dibandingkan dengan penjualan mobil nasional sepanjang 2006 yang mencapai 318.904 unit.

Demikian data penjualan mobil nasional yang diterima dari Gaikindo, Selasa. Penjualan mobil sepanjang 2007 itu terdiri dari penjualan mobil produk Astra International dan non Astra.

Penjualan mobil Astra masih mendominasi yakni sebesar 223.104 unit, sedangkan penjualan mobil produk non Astra sebanyak 211.345 unit.

Berdasarkan pangsa pasar secara nasional mobil produk Astra tetap urutan pertama dengan menguasai pangsa pasar sebanyak 51 persen.

Namun jika dibandingkan dengan 2006 pangsa pasar mobil Astra ini turun. Pada 2006 pangsa pasar mobil produk Astra tercatat 55 persen.

(ariezone)

Label:

posted by ariezone @ 11.11   0 comments
Ketika Bush Harus 'Mengemis'
Bush yang biasanya begitu jumawa dengan mengandalkan kekuatan militer dan ekonominya, kali ini harus bertekuk lutut. Ia bahkan tak malu lagi 'mengemis' ke ranah Arab, terutama ke Arab Saudi.

Dibilang mengemis sah-sah saja, karena apa yang dilakukan Bush kepada Raja Arab Saudi Abdullah, Selasa (15/1), lebih mirip orang yang meminta belas kasihan dari orang berpunya.

Kepada Raja Abdullah, Bush meminta agar pemimpin monarki itu mendesak Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk ikut memperhatikan keadaan ekonomi Amerika yang tengah lesu dan terancam resesi.

Ia juga menjelaskan panjang lebar kepada Raja Abdullah bahwa selain krisis kredit perumahan berisiko tinggi (subprime mortgage), pemicu kejatuhan ekonomi Amerika kali ini adalah lonjakan harga minyak yang sempat menyentuh US$100 per barel.

Kenapa ia harus memohon kepada Raja Abdullah untuk mendesak OPEC? Jelas tidak salah alamat, karena Arab Saudi adalah penghasil minyak terbesar di kartel minyak itu, mengungguli Iran dan Irak. Bahkan sepertiga dari produksi minyak OPEC berasal dari ladang-ladang minyak di tanah Arab Saudi, sehingga negara itu memiliki suara penting di OPEC.

Bush memohon kepada Raja Abdullah agar melalui kekuatan pengaruhnya di OPEC, ia bisa mempengaruhi kartel minyak itu untuk meningkatkan kuota produksi. Ini penting, karena dengan melimpahnya pasokan minyak OPEC di dunia, diharapkan harga minyak menurun dan pada akhirnya mampu meredam kejatuhan ekonomi Amerika lebih parah.

"Tingginya harga minyak dapat membahayakan negara-negara pengkonsumsi minyak,” kata Bush kepada wartawan sebelum bertemu Raja Abdullah.

"Ini telah berdampak pada keluarga kami. Membayar lebih mahal untuk bensin jelas menyulitkan banyak keluarga Amerika, dan saya akan menjelaskan hal ini kepada beliau,” ujar Bush.

"Ketika konsumen tidak lagi memiliki kekuatan beli, ini akan menyebabkan perekonomian melamban. Saya harap negara-negara OPEC untuk menambah pasokan ke pasar. Ini akan menolong," kata Bush.

OPEC akan bertemu di Wina, Austria, 1 Februari mendatang. Pertemuan itu kemungkinan membahas rencana penambahan kuota poroduksi.

Pasokan minyak OPEC mewakili sekitar 40% kebutuhan minyak dunia, dan biasanya para menteri OPEC akan manut saja apa yang dikatakan Arab Saudi apakah akan menambah produksi atau tidak.

Sebenarnya Bush tahu bahwa lonjakan harga minyak saat ini tak melulu karena ketatnya pasokan dari OPEC. Tingginya harga minyak kali ini mencerminkan adanya supply and demand, sementara pasokan minyak di pasar menipis.

Bush mengatakan meningkatnya permintaan minyak, khususnya dari India dan China, adalah faktor yang ikut menyedot minyak di pasar dan akhirnya mendongkrak harga.

Tapi jika Bush memang benar-benar tahu kondisi di pasar, mengapa ia harus 'mengemis' agar OPEC menambah produksi. Apakah ia pura-pura menutup mata bahwa di tubuh OPEC ada negara yang selama ini berlawanan dengan Amerika, seperti Iran dan Venezuela. Padahal kedua negara ini menyumbang minyak cukup besar dalam produksi total OPEC.

Jika kedua negara ini menolak menambah produksi, yang kemungkinan diikuti para anggota OPEC lainnya, harapan Bush untuk mendapatkan harga minyak yang stabil akan sia-sia. Apalagi China dan India akan terus menggenjot pembangunan ekonominya yang akan semakin menyedot minyak dunia.

Jika ini terjadi, sepertinya Bush harus bermuka tembok keluar dari Gedung Oval di tengah perekonomian Amerika yang terperosok.

(ariezone)

Label:

posted by ariezone @ 10.44   0 comments
Pengrajin Tempe Seperti Ikan di Kolam Kering
JAKARTA - Naiknya harga kedelai membuat Sawal (40) kelimpungan. Pasalnya penghasilannya menjual tempe turun drastis sejak satu bulan lalu.

Sehari-harinya, Sawal yang tinggal di Jalan Inspeksi Kali Sunter, Kodamar, Jakarta Utara mengaku bisa memproduksi tempe dari 7 kwintal kedelai.

Pria asal Pekalongan itu bisa membeli kedelai seharga Rp300 ribu perkwintalnya dan menjualnya di pasar Pulo Gadung. Perharinya, ia mengaku dapat mengantongi keuntungan Rp100 ribu.

Namun sejak sebulan lalu, roda usaha tempenya terseok-seok. Harga kedelai naik lebih dari 100% menjadi Rp750 ribu per kwintal. Akibatnya, keuntungannya menurun drastis, karena Sawal tidak bisa terlalu tinggi menaikkan harga jual tempenya.

(ariezone)

"Sekarang saya seperti ikan di kolam kering, enggak bisa nafas, tinggal tunggu matinya saja," keluh Sawal kepada okezone dengan nada pelan, Rabu (16/1/2008).

Sejak beberapa hari terkahir ini, Sawal pun tidak lagi menjual tempenya ke pasar, menyusul kesepakatan antara anggota Primer Koperasi Tempe dan Tahu Indonesia (Primpkopti) untuk menghentikan produksi dan menjual tempe-tahu selama 3 hari.

"Berat sih, tapi mau bagaimana lagi, ini udah kesepakatan kita. Kalau jualanpun bakal di-sweeping teman-teman," jelasnya.

Label:

posted by ariezone @ 10.03   0 comments
Senin, 14 Januari 2008
Seluruh Biaya Soeharto Ditanggung Negara
JAKARTA - Meskipun sudah tidak menjadi presiden, Soeharto tetap mendapatkan berbagai fasilitas dari negara, seperti biaya listrik, telepon, sopir, rumah, dan juga kesehatan.

"Di dalam undang-undang tidak diatur limitnya (batasnya)," kata Mensesneg Hatta Rajasa saat ditanyakan batas biaya perawatan Soeharto di RSPP, di Setneg, Jalan Veteran, Jakarta, Senin (14/1/2008).

Mensesneg mengatakan, sampai saat ini pembiayaan Soeharto dibayar terlebih dahulu oleh keluarga, kemudian baru direimburse kepada negara melalui Setneg. Kemudian, diserahkan ke Menkeu untuk dibayarkan.

"Jadi kalau ditanya berapa biaya yg dikeluarkan untuk Soeharto? Hingga saat ini belum, karena mereka belum mengajukan apa-apa. Yang ingin saya sampaikan adalah, itu (biaya perawatan Pak Harto) menjadi kewajiban negara," jelasnya.

Hatta mengatakan, pembiayaan untuk mantan Presiden dan Wakil Presiden berdasarkan UU 7/1978 tentang hak keuangan administrasi presiden dan wapres, serta bekas presiden dan wapres.

"Di salah satu pasalnya, pasal 7 hutuf C disebutkan segala biaya perawatan kesehatan mantan dan keluarganya ditanggung negara. Jadi, jelas dalam hal ini biaya kesehatan, perawatan kesehatan mantan presiden dan wapres beserta keluarga menjadi tanggungan negara, itu diatur UU," paparnya.

Selain itu, Hatta membantah adanya perlakukan berbeda dari pemerintah terhadap mantan presiden dan wapres. Dia mencontohkan mantan wapres Alm Umar Wirahadikusumah.

"Beliau mengatakan ingin berobat ke luar negeri. Kemudian beliau bayar dulu, baru di-reimburse. Demikain juga waktu Gus Dur dirawat di luar negeri. Dibayari kedutaan, kemudian di-reimburse ke Setneg," jelasnya.

Hatta juga mengaku telah memerintahkan kepada stafnya untuk menanyakan kepada Gus Dur dan mantan presiden dan wapres lainnya, apakah masih ada biaya-biaya yang belum disampaikan kepada Setneg. "Aturan keuangan kita tidak bisa, kalau tidak ada permintaan," pungkasnya.

(ariezone)

Label:

posted by ariezone @ 18.13   0 comments
AMERICAN GANGSTERS
Diangkat dari kisah nyata tahun 1970-an di Harlem, Frank Lucas (Denzel Washington) seorang supir yang pendiam dan sederhana dari seorang pimpinan pengedar narkoba di kota New York. Saat atasannya mengalami kehancuran, Frank masuk ke dalam bisnis haram tersebut, bahkan kesuksesannya melebihi sang atasan. Richie Roberts (Russell Crowe), polisi yang memastikan akan membawa Frank ke pengadilan

(ariezone)

Label:

posted by ariezone @ 09.48   0 comments
THE BREED
Terinsiprasi dari novel karya Stephen King dan film Cujo serta The Birds karya Hitchcock, lima sekawan sedang belibur disebuah pulau yang tenang mengetahui bahwa makhluk-makhluk semacam anjing yang menakutkan dengan tingkat intelijen tinggi sedang mengintai mereka – dan siap menyantap mereka

(ariezone)

Label:

posted by ariezone @ 09.38   0 comments
Jumat, 11 Januari 2008
"The Killing Field" di Irak, Ratusan Ribu Warga Sipil Jadi Korban Invasi AS

Irak benar-benar menjadi "ladang pembantaian" pasukan AS. Badan kesehatan dunia WHO dalam hasil studi terbarunya menyebutkan, sejak invasi AS ke Irak pada Maret 2003 sampai Juni 2006, telah menewaskan 151. 000 warga sipil di Negeri 1001 Malam itu.

Jumlah korban warga sipil yang dirilis WHO lebih besar dibandingkan jumlah korban menurut perhitungan kementerian kesehatan Irak atau lembaga-lembaga lainnya. Organisasi HAM Iraq Body Count menyebutkan jumlah korban antara 80. 000-87. 000 orang, namun penelitian yang dilakukan Universitas John Hopkins pada tahun 2006, menyebutkan angka 600. 000 korban selama tiga tahun invasi AS ke Irak.

Atas perbedaan angka yang signifikan itu, ahli statitistik WHO, Muhammad Ali yang juga terlibat dalam penelitian WHO mengatakan, banyak ketidakpastian dalam membuat perkiraan jumlah korban. Ia mencontohkan beberapa tempat di Baghdad dan provinsi Anbar yang tidak terjangkau oleh survei karena alasan keamanan. Selain itu, banyak keluarga yang mengungsi, bahkan ke luar negeri sehingga makin menyulitkan untuk mendapatkan hasil survei yang akurat. Akibatnya, margin kesalahan dalam setiap survei relatif tinggi.

Menteri Kesehatan Irak, Saleh al-Hasnawi menyatakan, hasil survei WHO mengindikasikan "besarnya korban tewas sejak awal invasi. Saya percaya dengan angka itu, " katanya pada para wartawan.

Namun Gedung Putih mengatakan, pihaknya tidak mau melihat berapa jumlah korban. Yang patut disalahkan atas jumlah kematian itu adalah para ekstrimis.

WHO mencatat, lebih dari setengah korban yang tewas akibat invasi AS, terjadi di Baghdad. Di awal invasi AS, rata-rata 128 warga sipil Irak tewas setiap harinya. Di tahun kedua invasi, rata-rata 115 orang tewas setiap hari dan pada tahun ketiga meningkat menjadi 126 orang tewas setiap hari..

Sementara itu, sejak perang berkobar hingga saat ini, dilaporkan 4. 000 tentara AS dan 174 tentara Inggris tewas. Sedangkan dari pihak militer Irak, tidak ada data yang akurat jumlah personel yang tewas. Ada yang menyebut angka 4. 900 ada yang menyebut 6. 375 orang.

(ariezone)

Label:

posted by ariezone @ 14.02   0 comments
about me
Foto Saya
Nama:
Lokasi: Depok, Jawa Barat, Indonesia

Yang jelas loe semua bisa nilai gue ini orangnya kayak gimana?? "Optimislah pada keyakinan dan harapan" itu adalah motto hidup gue. Gak usah takut sama tantangan, seoarang pemenang sejati adalah orang yang tidak menyerah di tengah-tengah perjalanan. Gw gak suka dibohongin Gw juga gak suka berbohong kL lo semua pengen sukses dalam bekerja, hal yang paling penting lo harus jujur, karena orang yang jujur itu akan disukai semua orang

Udah Lewat
Archives
sutbok
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. Aenean viverra malesuada libero. Fusce ac quam.
judul

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. Aenean viverra malesuada libero. Fusce ac quam.

Links
Template by
Blogger Templates